Cuplikan dari Monolog Pagi sebelumnya :
Wajah yang tersorot matahari di sudut peraduan dengan tubuh setengah telanjang, tangan tertumpang di atas pangkuan. Sejenak kemudian lelaki itu gelisah, dia tidak ingin diam dalam kebingungan. Dihelanya nafas seraya menatap langit-langit. Ada gemintang disitu, yang telah pudar dicerca matahari. Dipalingkannya lagi kepalanya ke paras wanita, ingin sekali dia bercakap dengan jelita ini. Ada rindu yang tiba-tiba menggelegak. Rindu bening mata di balik kelopak yang masih terkatup. Namun dia tidak bisa bertanya pada rindu, kenapa dirinya sampai di tempat ini. Pun dia tidak bisa bertanya pada paras juga bening mata, karena semuanya masih disembunyikan oleh mimpi.
Lelaki itu kemudian memutuskan untuk berbicara pada helai-helai rambut. Perlahan dia membelai mereka, lembut, dan berbicara.
Maafkan aku, sejenak hilang dari kesadaran. Tak secuil pun ingatan bisa menuntunku kesini. Aku tahu dirimu yang memegang penjelasan. Ceritakan padaku, seorang kembara yang tersesat, soal waktu yang terlewat. Aku memang tak tahu jalan menuju tempat ini. Tapi aku mengenalmu, perempuan yang tidur dalam keindahan. Tapi itu sudah berlalu delapan tahun yang lalu. Aku pernah samar melihatmu dulu, ketika nafasku tinggal satu satu. Aku pernah merasakan genggaman tanganmu di atas dipan dengan seprei putih, selimut putih, dan tirai-tirai yang juga putih. Dan aku tahu namamu, ya akhirnya aku tahu namamu, karena setiap hari kamu ada disitu. Di ujung dipanku dengan sebuah buku, menunggu bilamana aku terjaga. Aku tak tahu kenapa hanya ada kamu, selain orang-orang berseragam putih yang sering mengganggu nyenyak tidurku. Seminggu kemudian aku dipindahkan ke panti rehabilitasi. Orangtuaku yang memindahkanku. Mereka baru saja pulang dari Eropa kemudian menjemput anaknya. Menyerahkanku ke tangan ahlinya, bukan kembali ke rumah, bukan. Karena mereka bukan ahlinya. Mereka hanya mau anaknya dibengkelkan lebih dulu hingga betul seperti mau mereka. Tak masalah berapa biayanya. Mereka mampu, asal tidak membuat malu. Dan kamu, masih setia muncul di hadapanku. Namun kali ini tidak di ujung dipan lagi. Kamu datang tiap minggu pagi, menyapa di depan pintu kaca yang berbingkai jati. Selalu ada sekotak nasi kuning dengan sepotong ayam dan sejumput sambal yang kamu bawa beserta seulas senyum manis dan binar mata yang gemilang. Ah, bening mata itu sungguh aku menyukainya. Lalu kau ajak aku menuruni beranda menuju taman depan rumah. Rumah yang berisi orang-orang yang murtad dari zat-zat pemberi kenikmatan sesaat. Di bawah angsana sekotak nasi kuning itu selalu tandas di mulutku. Duduk berdua seraya kamu bercerita. Tentang nakalnya adik-adikmu, cerewetnya ibumu, dan gurau ayahmu yang sering menanyakan siapa gerangan pacarmu. Ya, kamu memang cantik. Wajar jika dirimu sudah punya seorang pacar. Seharusnya pacarmu mengajakmu jalan-jalan di hari minggu begini. Tapi kenapa setiap hari minggu aku selalu menjumpaimu di tempat itu? Ah, aku tak pernah menanyakannya padamu. Aku terlalu asyik mendengar celotehmu. Sesungguhnya aku iri. Aku tidak punya seorang adik ataupun kakak. Aku punya Mama dan Papa, tapi kehadiran mereka hampir selalu digantikan dengan uang. Akhirnya dengan uang itu aku beli semua perhatian yang mampu aku beli. Namun sayang aku tak bisa membeli kesetiaan. Semua kenikmatan itu hanya sesaat, semua perhatian itu hanya sekejap. Kamu lihat sendiri, hanya ada kamu saat itu yang bahkan tak kukenal di duniaku sebelumnya. Seniari, perempuan yang lahir di senja hari, begitu namamu. Rembulan yang menggantikan matinya matahariku, begitu artimu untukku.
Gerak jemari sang lelaki yang gemulai membelai terhenti. Memori mengusik hatinya, memberinya pertanyaan yang menggelisahkan.
Mengapa aku memilih terjatuh lagi? Ya, jika aku jatuh lagi kali ini memang karena aku memilihnya. Memang bukan jalan yang sama seperti yang kupilih dulu. Tetapi sama gelapnya. Mengapa? Padahal ada banyak jalan lain yang terang? Apakah aku merasa bertanggungjawab atas matahariku yang mati? Sehingga jalan gelap ini yang kupilih sebagai ziarah atas kematiannya.
Jemarinya melayang, sejenak kemudian mendarat di pelipis rembulannya yang pernah hilang. Menyibak poni yang menutupi alis yang melengkung seperti pelangi. Lelaki itu menarik nafas dalam-dalam. Seperti ingin menyimpan nafas sebanyak-banyaknya di paru-paru sebelum terjun menyelami memorinya lebih dalam.
Enam bulan aku ada di panti itu, sedangkan waktu tak menungguku. Semuanya bergulir dengan cepat. Celotehmu di bawah angsana pun seperti diary yang mengisi lembaran-lembaran baru. Terus berganti setiap kali kita berjumpa. Aku masih ingat ceritamu tentang ujian SMA dan rencana kuliah. Betapa beruntungnya dirimu yang mampu menata masa depan. Sedangkan aku, SMA saja aku tak mampu menyelesaikan. Kamu pasti juga tahu, bubuk iblis itu telah membujukku untuk terjun ke jurang. Lalu ketika aku tersadar dalam remuk redam, pelan-pelan aku harus mendaki lagi sebelum bisa menatap langit. Menyesal? Tentu. Tapi ada kamu yang dengan sekotak nasi kuning beserta seulas senyum manis dan binar mata yang gemilang menyapa di depan pintu kaca berbingkai jati tiap minggu pagi. Ada kamu yang tak pernah lelah berbagi sinar. Lalu kenapa aku harus menyerah? Tidak ada alasan untuk itu.
Bintang-bintang plastik di langit-langit kamar yang bisa berpendar kian pudar. Ketika cahaya matahari bergelimang, plastik-plastik itu nampak sangat biasa dan teracuhkan. Namun mereka dengan sepenuh hati membuka diri dengan hadirnya sinar. Menyerap sebanyak-banyaknya yang mereka mampu. Ketika tabir gelap tiba, mereka sudah punya cukup sinar untuk menjaga eksistensi. Punya martabat yang tak mudah larut dalam gelap. Karena mereka bintang, yang selalu tampak bersinar di tiap malam, meski hanya terbuat dari plastik sekalipun.
Kemudian aku kehilanganmu. Di suatu pagi, tapi bukan di hari Minggu. Aku heran, tak biasanya kamu datang bukan di hari Minggu. Kali inipun tak ada sekotak nasi kuning, tak ada pohon angsana, dan tak ada senyum ceria. Kamu bilang mungkin tak akan sempat menjengukku lagi. Kamu bilang jika kamu diterima kuliah di lain kota. Kamu bilang aku harus bertekad untuk kembali meniti hidup. Kamu bilang matahariku akan hidup kembali. Kamu bilang jika seluruh dunia tak percaya maka kamu yang satu-satunya selalu percaya padaku. Lalu kamu bilang…CINTA… Dan aku kehilanganmu bahkan sebelum sempat menalar semua kata-kata.
Matahari yang telah sangat renta merangsek naik. Mendaki dengan susah payah ke atas langit. Mungkin lelah, namun dia sadar, kematiannya adalah hak sepenuhnya Sang Pencipta. Dan pagi ini dia menyaksikan seorang pecundang berjingkat-jingkat menuruni beranda di sebuah rumah kontrakan, menoleh sebentar ke jendela yang masih tertutup dimana pot-pot kembang tertata rapi di bawahnya, lalu setengah berlari menghilang di belokan.
Ketika sosok indah di balik selimut itu nanti bangun, secarik kertas post it yang tertempel di kaca rias akan memberitahunya bahwa cinta itu terbang lagi. Sepertinya kali ini dia harus siap kepakkan sayap yang lebih kuat untuk mencari dan menyelamatkan cintanya yang akan menghujam bumi. Absurd.
NEXT EPISODE : Surat Yang Datang di Senja Hari
selamatkan pertamax dulu.. horee akhirnya diterusin..
, ntar klo udah baca komen lagi..
dah baca belom? pasti males baca yang panjang2 gini
keduax dulu. baca belakangan…
*dirajam yudis*
Tenang..! gak akan dirajam kok..
*sandera anak2 kucing cK*
ikutan ck, ketigax! hihi… baca belakangan juga
salam kenal
pada males baca nii..
salam kenal jugak..
Hayooo… Cukup pegang rambut aja ya..
Jangan pegang lainnya…
ah, masak cuma boleh rambut doank?? gak seruuu…
*berencana buat yang seru-seru di episode berikutnya*
JLEB!
kok nyesek dan jadi pengen nangis ya?
Mbok, jangan suka maen2 pisau dapur ah!
great post!
tengkyu! tengkyu!
*sambil membungkuk-bungkuk*
Ternyata .. terjatuh itu pilihan ya?? tapi mengapa?? bukan kah orang2 tidak ingin jatuh. Hmmm .. pilihan yang aneh ..
buat lelaki itu, jatuh dalam jurang gelap adalah pilihannya bang. mengapa? kita tunggu aja lanjutannya..
ah…kenapa lantas saya terharu membaca ini?
Yudh! tanggungjawab!
padahal ada yang bilang saya ini cewek nggak berperasaan…
buktikan kalo kamu nggak berperasaan! lhah?!?
tulisann melow ….
dan puaanjanggg pisannn lagiiii …..
Dis… KAWIN SONOH…!!
Kawin? Bentar lagi..
Dis,..
wildan Merit loe dateng ngga?
mang kapan? dan dimana?
Kalo gw ga sempat, titip salam saja..
He? Merit? blm tau tuh. bentar gw cari tau dulu..
Nice story!
Keep it up bro..
Hehe..tengkyu mbak..
Ah, ndak komen dulu ah, nunggu episode terakhir ajah
ndak komen karena nunggu lanjutan ato karena ndak baca?!? hah? hah ?!?
episode brikutnya itu bakalan jd ending ga ya?
hmm..sepertinya gw gak bisa bikin cerita ini berakhir dengan cepat
Wuahhhh…..
meruah… pada aroma pada ruap…
puwasss….
good job bro…
ini kan berkat gemblengan dari Master Goop..
Yaahh… masi bersambung lagi…
Bagian yang “memilih untuk terjatuh” bener2 touchy. Jadi berasa banget di ati.
*Pasang mp3, keluarin buku dan cemilan sambil nunggu sambungannya lagi*
tapi ini tiap bagiannya bisa berdiri sendiri kok em. ato setidaknya gw berusaha membuatnya seperti itu..
rembulan yg menggantikan matahari..hemmm..sweet..
sweet like chocolate, eh?
Untuk yang kesekian kali Ade baca tulisan diatas … masih belum tahu harus comment apa. INDAH itu pasti.
-Ade-
lha ini kan komen, De..
Hmmm, jatuh juga ternyata pilihan yak??
*langsung pesen bundelannya aja biar gak penasaran ah*
bundelan bisa dipesan langsung di kafe-nya tukangkopi
sedikit berkerut utk memahaminya
nice post
gpp deh berkerut-kerut dikit. bagus buat perkembangan otak..
kesian amat ya…
btw itu bukan tentang kamu khan yud?
apa ini tentang kamu?
BUKAN! ini bukan tentang gw!
tapi gw mendamba cewe yg ky gitu. yang bisa menopang waktu gw terjatuh..
puitis
hehe..komen paling pendek yang pernah ditulis di blog ini..
btw..tengkyu
Perempuan seperti itu pasti langka, di dunia cuman ada bbrp, itupun perlu seribu keberuntungan utk menemukannya. Nice Sequel…
kok tau kalo di dunia cuman ada bbrp? berarti termasuk yang perlu dilindungi dan dilestarikan dunk?
komen di atas ini juga plg pendek hihihih…
h
h maksudnya hetrixx hehehe
ASYEMM!! CY lagi kurang kerjaan!!
yessss…. sidebar is mine wakakkaak
*tabok-tabok CY!!*
ni yang nulis 2 orang yah?
keren banget ih,
mas daftar jadi fans yahhhh
huhuhuhuhu
ndak, ini yang nulis 1 kepala.
silahken daftar fansclub ke manajer saya..
kenapa harus memilih untuk terjatuh? apa karena yakin pasti akan ada yang menopang?
cukup aneh, saat yang lain selalu bertahan untuk tak terjatuh… yang ini malah lain…
betewe, kamu ndak ingin berpindah posisi jadi yang menopang, yud?
nanti tak jawab di cerita selanjutnya (kalo udah ada inspirasi)
pengen berpindah jadi yang menopang? lha ini bukan cerita gw kok
walopun pertamax di saya.. tapi saya baru sempat baca sekarang.. huehue..
ceritanya kok jadi sedih gini.. padahal dulu aku harapkan lanjutan ceritanya adalah “menggairahkan”
, btw, penggambaran yg mantab bro.. salut salut
wakakak…11 hari kemudian baru baca. sibuk ya bro? ini kan bukan situ cerita-cerita “seru” bro. masak mo cari yang menggairahkan..