Kalau cinta itu merah? Siapa memang yang pernah liat bentuknya cinta? Juga warnanya? Cintaku sekarang ini tidak merah, mungkin hitam kalo aku boleh memilih warnanya. Atau apa saja, yang jelas cinta yang sedang melintas di hidupku tidak berwarna merah. Tidak sedikitpun terlintas warna itu di benakku. Bahkan sejujurnya aku tidak terlalu mengerti cinta. Aku hanya pura-pura tau.
Orang bilang cinta itu adalah kasih ibu kepada anaknya. Lalu haruskah kutanyakan itu kepada ibu? Aku saja tidak pernah menyentuh raut wajahnya sepanjang ingatanku. Raut cantiknya hanya aku pandangi dari album-album foto yang berdebu. Ingatan akan raut yang dibekukan kotak penangkap bayangan. Raut yang sama dari waktu ke waktu. Tidak ada kesedihan yang terpampang. Semuanya tersenyum, tertawa, dan bahagia. Apakah ibu memang selalu bahagia semasa masih ada dahulu? Aku tak tau. Ayah tak pernah ada untuk cerita.
Roda-roda baja masih terus menggilas rel yang membelah persawahan. Matahari sebentar lagi minggat. Ada sesuatu yang berat menggelantungi perasaanku. Seperti masih ada yang tertinggal di kota yang beberapa jam lalu kutinggalkan. Selalu saja begitu sampai pertemuan yang ke sekian kali ini.
Aku menenangkan diri. Memalingkan wajah dari jendela. Menghela nafas sejenak dan memejamkan mata. Kotak musik pipih mungil berlabel IPod dengan jernih mengalunkan salah satu lagu favoritku. Lagu favoritnya juga. Dia yang mungkin sedang resah disana. Dia yang bisa kupastikan segera digulung rindu. Dia yang pastinya tak sabar menunggu cumbu rayu, pagutan mesra, dan eksplorasi mautku. Hmm..aku tersenyum sendiri mengingat percintaan kita. Babak demi babak yang penuh dengan resiko. Bahkan yang semalam itu benar-benar gila! Untuk pertama kalinya kita bercinta di sarang harimau. Untung harimaunya sedang ke luar kota dan tidak pulang disaat kita sedang bergulung-gulung di atas meja makan, meja kerja, karpet, lantai dan berakhir di kasur. Kalau tidak…. Hi.. Aku bergidik membayangkannya.
Lantunan lagu I Think God Can Explain dari Splender masih memenuhi gendang telinga. Sebuah theme song cerita kita. Apakah memang Tuhan bisa menjelaskan? Batinku berbisik sendiri. Menjelaskan kepadaku. Kepadanya. Kepada kita. Bagaimana ini bisa terjadi dan untuk apa ini terjadi? Menjelaskan kepadaku bagaimana ini bisa kunikmati dan menjelaskan kepadanya kenapa ia selalu menanti. Aaarrghhh…seandainya dunia cuma diisi sebanyak orang di gerbong kereta ini. Mungkin kita tidak perlu sembunyi.
Tiba-tiba handphone dalam saku celanaku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.
From: Risha
Ntar kalo dah nyampe telp aku ya..
Aku melirik jam di tangan kiriku lalu membalas.
To: Risha
OK. Sejam lagi keknya nyampe stasiun. Ntar kalo udah nyampe rumah aku telpon ya.
Benda mungil itu sesaat kemudian kembali masuk ke dalam kantongku.
Dulu aku bertemu dengannya di sebuah mall di Jakarta. Sebenarnya itu bukan perjumpaan yang pertama kali. Awal aku melihatnya adalah di sebuah acara gathering yang diadakan perusahaan Ayahku di Surabaya. Alrisha adalah istri dari salah seorang klien Ayah. Tapi baru setelah perjumpaan di mall itu jalan cerita menjadi seperti perang gerilya. Pertemuan-pertemuan selanjutnya hampir selalu berbumbu nafsu. Awalnya dia yang mengajariku. Pelan-pelan hingga akhirnya insting yang mengambil alih dan bertanggungjawab atas semua keliaran dan kenikmatan yang kita reguk. Gila tapi sexy! Laknat tapi nikmat!
Jadi dimana cinta? Sudah kubilang aku tidak tau makhluk apa itu yang bernama cinta. Mungkin dia yang tau apa itu cinta. Dia pernah bilang begitu padaku. Akhirnya aku juga bilang cinta padanya. Tapi aku hanya pura-pura tau. Bahkan dengan Arimbi aku tidak pernah mengucap cinta. Kedekatan itu terjadi begitu saja hingga akhirnya kita sepakat menyebutnya pacaran. Tapi kedekatanku dengan Arimbi berbeda dengan Risha. Aku tidak pernah bercinta dengan Arimbi. Paling jauh hanya cium kening. Sama sekali tidak ada niatku untuk melakukan hal lebih jauh. Apa ini bedanya? Ketika kamu mengucap cinta artinya adalah: I want SEX. Ah, aku tak mau terlalu sok tau.
Jalur rel ini akhirnya menggiring kereta sampai juga ke kota. Sudah lepas maghrib ketika tiba di Stasiun Pasar Turi. Aku segera berdiri dan menyusuri lorong gerbong saat kereta berhenti. Badanku terasa lelah sekali. Semua intrik ini menyedot energiku. Aku ingin menyantap makan malam yang lezat, mandi air hangat, dan menikmati segelas teh panas sambil mendengarkan musik setiba di rumah.
Sementara melangkah menuju pintu keluar stasiun aku mengingat-ingat tanggal berapa ini. Aku harus menyusun rencana kapan lagi aku akan singgah di Jakarta. Mudah-mudahan Soekarno-Hatta tidak banjir lagi. Rasanya remuk semua tulangku kalau harus naik kereta.
“Aaarrghh..!!”, spontan kutepuk jidatku. Tiba-tiba teringat sesuatu. “Besok Arimbi ulang tahun!” aku mengomel pelan menyadari kebodohanku.
Kupercepat langkah kakiku menuju tempat parkir. Berharap Pak Mardji’un sudah stand by disana. Benar saja, tanpa harus susah payah mencari aku langsung melihat sosok itu berdiri di samping sebuah sedan hitam. Sejurus kemudian aku sudah meluncur di jalan.
“ Pak, kita ke BG Junction dulu ya. Cari kado buat Arimbi.”
Bias lampu-lampu malam di Surabaya hampir mirip di Jakarta. Sepanjang jalan aku memperhatikan mozaik kehidupan dari balik kaca. Semuanya bergerak cepat. Datang dan menghilang. Lalu wajah perempuan itu membayang.
Malam ini suaminya pulang, batinku. Tiba-tiba ada amarah yang menyesak di dada. Rasa cemburu meluap tanpa bisa berbuat apa-apa. Iblis sepertinya sedang senang sekali saat ini mengejek jiwa lemahku. Muak.
Aku ingin cepat-cepat mendapatkan kado buat Arimbi. Setelah itu pulang dan menelepon Risha. Aku butuh hangat suaranya. Aku ingin kata cintanya mengantarku tidur nyenyak malam ini. Karena besok aku harus menyiapkan topeng yang lain buat perempuan keduaku. Oh jiwa, bantu aku bersandiwara.
Note: sebaiknya baca ini juga biar nyambung
waks!
Panjaaang…
huaaaaa…..akhirnyaaaa….
*baca dulu ah :p
huanjriiittttt!!!! sumpah, ini keren banget. I like it! No, no. I LOVE IT!
*bah, gantian, sekarang gw yg grogi. mau kemana kita, Bre? huahakhakhak….
Eeeh… Ini jadi cerita bersambung antar blog ini…
iya panjang amat..
maaf ya jd fastreader
yg penting komen ah
*kembali menanti simbok
-Malam ini suaminya pulang..-
Pulang dari kencan sama Arimbi yak?? Who knows?? Huahahahha…..
giliran simbk berikutnya *demen ama novel sambung menyambung kayak gerbong kereta*
hihihi…
dua sudut pandang ternyata,
konfliknya jadi lebih bagus…
*menanti lanjutannya*
ha……..yang jelas, kalok orang jatuh cinta ituh…tai kucing rasa coklat…
*pingsan*
Kata-katanya cool ..
Oala .. ternyata di Surabaya toh?? abang malah belum sempat jalan2 di BG Junction. Satu2nya Mal / Plaza di Surabaya yang belum disambangi hehehe
Buagus pwol..
nunggu bukunya aja minta tanda tangan sama diceritani life sekalian
setelah tak baca lagi
ternyata ceritanya bagus tenan
bikin orang makin penasaran!
Cinta dan Sex adalah dua hal yang berbeda, tetapi saat keduanya bergabung timbul hal ketiga yg lebih berbeda lagi… mau?
Hyaaaa..I WANT MORE!! I WANT MORE!!!
walopun bukan penganut brondong mania, tapi..kena bok..kena..
ayuuukk lagi!!!
busyet…
… bener2 sambung menyambung menjadi satu… itulah… *ga jadi nyanyi*
Ceritanya wuokeehh. Nunggu sambungannya ah, tapi jangan kepanjangan bos tiap episodenya
hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm…
lumayan……
Wah hebat hebat ternyata,
Bisa- bisanya di kereta cerita tentang cinta,
Tentang senja yang katanya tampak beda,
Wah, ceweqnya ada dua?
Kalo saya mah boro- boro bisa,
jakarta- surabaya pake kereta kelas ekonomi ato biasa,
Uhuk- uhuk, asap rokok dimana- mana,
Uah..cape aja yang ada,
Eh ini sih kereta kelas utama ya?
Salah- salah kalo gitu saya,
Kopiiii wah …seru … bikin gw deg2an tunggu cerita berikutnya hihihihi
keren ih,
yang ini keren banget…
muanteb lah.
waaah….keren !!!
sekarang tinggal nungguin Budhe nih…
kerennnnnnnnn…”gak sabar nunggu lanjutannya”
btw salam kenal
Oh…jiwa bantu aku bersandiwara
………………………………………………
wah belum dibantuin aja udah hebring…apalagi dibantuin ya….?
mangkannya gua jadi railfans
[...] **episode sebelumnya, baca di sini. [...]
pengen kenalan ama risha-nya atuh..
Setiap orang punya rasa cinta , tapi tak setiap orang dapat merasainya .
setiap orang pernah bercinta tapi tak setiap orang mampu mengecap bahagianya cinta .
nyambung ga seh..???
wah, sangat menyentuh……..
merinding bacanya
episode yg paralel… huh.. jadi ngiri, kok bisa ya kalian berdua ini saling nyambung gini.. keren puuooolll.. 
*menuju bagian 4 ke blog sebelah*
Dari tempat simbok dan langsung meluncur kesini. Sama kerennya sama punya simbok, meski gaya penuturannya lebih halus.
Salam kenal
yudhiiissss…..tolong kasitau yak? bedebah si Bre, gw masih mewek baca yang ‘kalah’…:((
APA MAUNYA SI BRE SIIHHH??? KURANG AJAAAARRRRR!!!
duh…ceritanya itu lho…
nggak nyangka seorang yudis bisa bikin cerita berbau mesyum..
mantaps….
Cinta bisa timbul tanpa sex, tapi jarang… kikik. Sex bisa terjadi tanpa cinta, nah itu sering… kekek.
Aku punya topeng bagus, mau?
Wahh asyikk……pilih mana ya akhirnya?
akhirnya beli kado apa?
*salah fokus*
permen .. permen..tisyu ..tisyu..mas, rokoknya mas, arem – arem masih anget, akua – akua….misonnya mas mison..
( pura2 jadi pedagang di kereta )
sementara itu seorang ependi datang. Dengan suara yang seolah-olah syahdu, namun memekakkan telinga, dia menawarkan barang dagangannya. ada tissue basah, permen basah, rokok basah, arem-arem basah, akua basah, mison basah, yang jelas semua yang basah-basah. Kenapa dia menjajakan barang yang basah? karena kata basah berakhiran ah. dan ah itu lebih nikmat daripada an…. mungkin itu juga kenapa ada orang bernama diah dan dian.
/* nggak nyambung ya? kabooorrr…..
*ngakak baca komen Jiban*
Hadohh..gw belum sempet bales komen-komen. Maaf ya… Wiken kemaren habis ribut di eks kampus..
kerennnnn banget, jadiin buku aja
arrrrrgh kereeeen… jadi korupsi waktu sejam di kantor baca cerita sambung menyambung inih…
hayo dibikin buku ajah…. *mendukung*
Bikin aja e book biar gampang aksesnya
Tidaaaakk.. Ceritanya bikin celana saya tiba-tiba menyempit, um..
Bagus ceritanya, menyentuh nih,
salam kenal
dipingpong simbok kesini
salam kenal
ceritanya…..*suspense*
sambung…sambung!
wakakak…. apa ini, cerpen ping pong an?!
mantab… ayo-ayo, bikin sinetronnya!
judulnya : behind the blog *saingan ama behind the song*
Ane acungin 12 jempol… buat post ini

Sangat menggelitik dan mbkin ane kepengen mencontoh suri tauladan dari cerita ini…
*dirajam*
Lanjutin!!! lanjutin!!!
penasaran kisah berikutnya, Dis. Ceritanya menarik banget. hik…
[...] memang payah. Tidak bisa melihat dari jarak jauh. Setelah agak mendekat akhirnya aku menemukan Ade, Yudis, dan Caplang duduk bertiga. Mereka tersenyum ramah ke arahku. Setelah bersalam-salaman, aku pun [...]
udah nih? nyerah? huuuuuu payaaaaahhhhh…. :p
@venus
HAYAAA!!! ENAK AJA!! TIDAK ADA KATA MENYERAH!!
cuma udah dari hari kamis kemaren belum ada waktu yang bener2 senggang buat nulis.

diajak jalan-jalan sama hura-hura teruusss..tiap pulang ke rumah udah kecapekan
tunggu maksimal hari kamis! kalo gak ada sambungan berarti saya nyerah. tapi mungkin itu cuma dalam khayalan aja..
ko aku kayak dejavu ya,..hmm kayak dimas n ruben nya supernova:d
[...] simbok bisa mengerti. Jikapun saya dianggap menyerah, dengan besar hati saya menerima kekalahan ini. Tapi jika kemurahan hati simbok mengijinkan saya [...]
keren!!! waaahhh.. jadi iri,, pengen bisa buat cerita gini juga,,
[...] #3 Senja Diatas Kereta [...]
salam kenal.
ceritanya bagus banget. kamu dan venus. kerjasama yang mengerikan. cerita yang mengerikan juga. jempol sebanyak-banyaknya buat kalian.
ah.. i like being a man.. hehehe
Waaawwww… Keren!!!!!
duh jadi parno.
berharap kalo pangeranku tidak seperti bre yang kamu ciptakan.
bersandiwara…
[...] Episode 3 : senja di atas kereta [...]
[...] #1: cerita kemarin #2: perempuan kedua #3: senja di atas kereta #4: kalah #5: selamat ulang tahun, arimbi. aku pergi #6: selamat ulang tahun, arimbi (flashback) [...]
weleh…weleh….
[...] #1: cerita kemarin #2: perempuan kedua #3: senja di atas kereta #4: kalah #5: selamat ulang tahun, arimbi. aku pergi #6: selamat ulang tahun, arimbi (flashback) [...]