Mimpi

Pagi ini aku terbangun dengan hampir melompat dari tempat tidur. Bergegas aku melongok ke luar jendela.

“ Fiuhh…Syukurlah matahari masih terbit dari timur. Kiamat bukan hari ini rupanya. ”

Angkasa ini sesak. Penuh dengan menara-menara menjulang. Menara-menara kaca yang di lantai-lantainya bergemerincing uang.

Udara yang aku sedot lewat lubang hidungku ini racun. Tapi ia sopan, dibunuhnya aku nanti waktu mataku sudah sedikit rabun.

Bumi yang aku pijak ini sudah dipetak-petak. Mau molor sebentar pun harus bayar.

Aku duduk di pojok kamar. Pinggangku masih sakit sehabis mimpi basah di atas kasur yang cuma setebal lembar roti tawar. Hidup ini juga cuma mimpi.

Kata guru ngajiku, hidup itu sekedar lewat, setelah itu yang ada akhirat.

Bah, meski hidup sekedar lewat aku tak mau terus-terusan makan nasi berkat. Meski hidup sekedar lewat tapi aku sudah bosan tinggal di kamar pengap.

Hidup cuma mimpi. Lebih baik mimpi yang lebih dari sekedar mimpi basah yang bikin pinggangku sakit itu.

“ Aku mau jadi penguasa menara-menara Jakarta. ”

Aku juga mau seperti mereka -yang bayangannya pun bisa menghasilkan uang- tinggal di griya-griya tawang. Romantis, lebih dekat dengan bulan dan bintang. Bebas banjir dan jika beruntung ada pemandangan gratis gadis kampung sedang mandi.

“ Duh, Mak. Pantas saja kalo aku ini dibilang setengah gila. Mimpiku lebih gede dari stadion sepakbola. Sedangkan jadi bintang sepakbola kampung saja sudah bisa bikin teman-teman sebayaku berlagak playboy. Edan!! ”

Tapi aku tidak bisa menaklukan Jakarta dari dalam Jakarta. Jakarta itu monster yang terlalu buas dan menyeramkan. Aku tidak bisa menghadapinya dari depan. Bisa mati sia-sia! Jadi harus melipir. Perang gerilya.

Ah, besok aku akan berangkat. Kuhamburkan pandanganku ke seisi kamar yang bercat putih kusam. Lemari tua, meja tua, cermin di dinding, kasur apek, kipas angin, dan sebuah tas besar yang penuh isi di pojok lain. Semoga jauh di seberang mimpiku bisa jadi kenyataan.

Apa yang kurang? Baju, celana, pakaian dalam, alat sholat, handuk, segepok uang tabungan… Restu?

20 Responses

  1. Postingan ngawur di “seri perjalanan”. Mhuahuahuahua….

  2. mimpi itu awal dr hidup dis…..asalh jangan lupa bangun aja :P

  3. wew…
    ini semacam refleksi dari mimpi yak?
    uhm… slamat jalan deh…

  4. Saya jadi tetep cinta Jogjah…

    *sudah melepas kesempatan kuliyah di Jakartah*

  5. gak balik2 lagi? atau kamu punya limit, sekian taun ke depan, saya harus sudah punya apartemen di bilangan kuningan yang begitu dekatnya dengan bulan dan bintang2?

    good luck, dis. jangan lupa tetep nulis.

  6. Mang lagi jalan kemana?

  7. jadi pergi? jangan lupa pamit dulu ya. gak dapet restu dari saya, ga akan afdol perjalananmu.. 8)

  8. hidup.. datang dan pergi silih berganti… tapi tidak selamanya pergi khan..?

  9. Mimpiku lebih gede dari stadion sepakbola.

    lebai sampeyane… :P
    tak doakan selamet…. :D

  10. Ber-mimpi-lah sebelum mimpi itu di-larang, karena dengan mimpi kita memiliki sesuatu untuk di-wujud-kan ;)

  11. Mesti cepet-cepet bangun…

  12. Sayah inget pesen AA BOXER doloo kepada sayah,

    TIDAK KEMBALI PULANG
    SEBELOM KITA NYANG MENANG !!!

  13. semoga mimpi indahnya jadi kenyataan

  14. ya sudah, kerja mimpimu sana……..

  15. eh…. maksudnya kejar…. :oops:

  16. gantian menjemput impian neh ceritanya… :D hehehe… aku juga mo gantian minta oleh2… :twisted:

  17. oooh jadi pergi??? melipir sedikit dari Jakarta???
    kurang jaoooooooh…. :lol:

  18. jangan pernah takut bermimpi krn hari tak selamanya siang…tapi, kl gak bgn2 bagaimana ?..ZzzZzz
    skl2..ngopi dong di gubukku, wahai tukangopi..!!

  19. tumben gak diapdet…ngikut-ngikut saya hiatus ya? :roll:

  20. saya setia sama semarang, berpikir untuk pindah ke tempat Iblis pindah..duhh..

Leave a Reply