Perempuan itu bernama Lenny [updated]

Sebentar saja teman, mari saya ceritakan sekelumit kisah tentang seorang perempuan yang saya temui di tanah priangan di suatu Senin pagi yang cerah. Perempuan hebat yang bisa membuat jantung saya melompat-lompat karena cemas namun sekaligus mampu menghilangkan perasaan lelah saya oleh tingkahnya yang lucu, ato mungkin bisa disebut gila.
Jadi pagi itu saya baru saja keluar dari sebuah penginapan murah di suatu lokasi dekat dengan sebuah institut teknologi kondang di negeri ini. Matahari pagi itu sudah bersinar terang sekali. Untung saja pepohonan besar di tepi jalan dan angin dataran tinggi yang sejuk bahu membahu melindungi saya dari terik. Dengan mengenakan sebuah jaket dan menggendong tas abu-abu yang selalu setia menemani, saya berjalan di atas trotoar menuju perempatan dimana sebuah angkutan kota sudah menunggu. Tujuan saya adalah tempat kos adik di jalan Ciumbuleuit untuk menumpang mandi. Ya, saya keluar dari penginapan memang belum mandi, tapi sudah cukup pantas kalau cuma untuk menggoda mahasiswi-mahasiswi yang kebetulan lewat.
Sejurus kemudian saya sudah berada di dalam angkutan berwarna hijau itu. Saya duduk di pojok belakang, memandangi jalan dari kaca belakang sembari melamunkan rencana apa yang akan saya lakukan hari ini. Sampai tiba-tiba saya mendengar seseorang berbisik.
“Ssstt..”
Sontak saya menoleh ke sumber suara yang menurut telinga saya ada di dekat pintu angkutan. Saya melihat sekilas, seorang perempuan berkacamata mengenakan pakaian yang sepertinya disebut daster, dan memangku sebuah tas plastik berwarna hitam. Dia duduk di ujung dekat pintu, berseberangan dengan posisi saya. Karena merasa tidak mengenalnya, saya kemudian memalingkan wajah dan melahap kembali lamunan yang tadi. Namun bisikan itu terdengar lagi!
“Ssstt..”
Entah kenapa radar suara saya lagi-lagi menangkap suara itu berasal dari sumber yang sama. Sayapun kembali memperhatikan sosok perempuan itu. Hanya sekilas, karena saya benar-benar tidak berhasil mengenalinya. Tapi dia tersenyum kepada saya. Siapa dia? Bloger kah? Sempat terlintas pikiran itu di kepala saya. Namun akhirnya saya tidak ambil peduli.
Angkutan kota mulai bergerak setelah beberapa penumpang lagi masuk.
*ganti gaya cerita*
Lha, pas angkot dah mulai jalan kok dia tiba-tiba pindah tempat duduk ke sebelah saya! Dan yang paling bikin saya salah tingkah adalah DIA MERAPATKAN TUBUHNYA KE SAYA SAMBIL SENYUM-SENYUM NGELIATIN WAJAH SAYA!! KAMPRETT!! SIAPA SIH ELO??
Tapi saya tetap mencoba tenang dan tersenyum. Barangkali mungkin saya dan dia saling kenal, cuma otak saya yang karatan ini gagal memanggil kembali ingatan itu.
“Mas minta nomer telepon donk..”
Permintaannya sungguh mati mengejutkan saya. Otak saya langsung bergerak cepat menganalisa pertanyaan itu dan alternatif jawaban apa saja yang bisa saya berikan beserta kemungkinan-kemungkinan akibat yang ditimbulkan dari jawaban tersebut. Tapi untungnya otak di kepala yang kalo sedang bekerja sudah mulai timbul suara-suara berderit ini masih bisa berpikir waras. Dengan segera saya membangun pertahanan diri.
“Maaf Bu, saya lagi ndak punya hape…”
Ibu? Iya, karena pakaiannya serupa daster yang langsung mengingatkan saya kepada image ibu-ibu tukang arisan, makanya saya memanggilnya dengan sapaan Bu.
“Yahh..masak ndak punya?”
“Memang buat apa, Bu?”
Dengan polosnya saya menanyakan pertanyaan bodoh itu. Orang minta nomer hape ya buat ditelepon lah. Maklum, agak panik.
“Nomer hape Mas berapa? Nanti saya telepon.”
Dan jawaban yang sudah bisa saya pastikan sebelumnya itu meluncur.
“Hape saya ilang, Bu. Ilang di travel waktu dari Jakarta kemaren.”
Saya mencoba menjawab dengan bibir masih tersenyum, sangat tulus. Mencoba untuk tidak menyulut suatu kegilaan lain yang mungkin bisa membahayakan NYAWA SAYA!!
Angkutan umum masih menyusuri jalan yang menurun. Ibu itu terdiam, begitu juga saya. TAPI DIA MASIH DENGAN ASYIKNYA MEMANDANGI WAJAH SAYA!!
Tuhan, apa dosa saya? Perasaan saya ini ndak ganteng-ganteng amat. Lagipula saya juga belum mandi. Tampang masih seadanya. Tapi saya berusaha tabah. Melontarkan pandangan ke arah lain sembari berdoa agar perjalanan ini cepat usai. Lima ratus meter terasa bagaikan perjalanan menuju keabadian. Hiks…..
Melewati sebuah jembatan yang melintasi sungai Cikapundung, jalanan mulai mendaki. Perempuan berkacamata yang misterius ini kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
“Mas, nomer hapenya berapa?”
“Maaf Bu, saya beneran sedang ndak punya hape. Eh, saya turun di depan ya..”
“Lho Mas, kok turun sih? Nomer hapenya berapa dulu?”
Perempuan itu tampak sedikit panik begitu mengetahui saya akan segera pergi meninggalkannya.
“Kiri, Pak.”
Saya meminta sopir untuk berhenti sesaat angkutan berbelok ke kiri di ujung jalan yang mendaki. Penderitaan saya sebentar lagi akan berakhir.
“Agak depan, Mas. Ada polisi”, sopir itu menukasi.
Saya pun dengan sabar menunggu hingga angkutan berhenti. Tapi ternyata tidak dengan perempuan ini. Dia dengan semangatnya membantu saya meneriakkan kata, “Kiri!” BERKALI-KALI!! MASYAALLAH..!! Sang sopir sampe sedikit kesal
“Iya, Bu. Saya juga denger. Itu ada polisi”, demikian ucap sang sopir yang baik budi itu.
Setelah angkutan berhenti, saya pun turun dan membayar ongkosnya. Begitu saya hendak berbalik dari angkutan tiba-tiba terdengar suara.
“Mas, tunggu..!!”
SEJUTA TOPAN BADAI!! Dia ternyata ikut turun dari angkutan!! Setelah membayar ongkos dia berlari-lari kecil mendekati saya yang masih berdiri mematung di pinggir jalan, masih dengan senyumnya yang ndak jelas maknanya. Sigh…………
“Ibu mau kemana?” Saya bertanya dengan nada selembut mungkin. Sekali lagi, untuk menyelamatkan jiwa saya yang kasihan ini.
“Kok manggil Ibu sih? Nama saya Lenny..”
Saya cuma nyengir.
“Saya mau ke Cimahi”, perempuan itu melanjutkan.
“Lhooo…Cimahi kan masih jauh, kenapa turun disini?”
“Nggak pa pa. Saya mo naek angkot Cimahi dari sini.”
“Eh, dari sini ndak ada angkot yang ke Cimahi.”
“Terus saya naek apa ya, Mas?”
“Kalo mau naek Cicaheum-Ciroyom terus turun di Hasan Sadikin. Habis gitu naek yang ke Cimahi.”
“O gitu ya. Kok mas hafal sih?”
“Iya saya dulu kuliah di Bandung. Tapi sekarang kerja di Jakarta. Ini juga saya mau berangkat ke Jakarta.”
“Ooo..di Jakarta ya. Mas minta nomer hapenya donk..”
Halah, lagi-lagi dia masih mengejar jawaban dari pertanyaan yang sama.
“Hape saya ilang di travel. Sekarang belom punya hape. Harus beli dulu..”
“Minta kartu nama deh..”
GRRRR…Saya sudah mulai gemassshhh…Tapi saya harus bertahan. Mengeluarkan kemampuan berkomunikasi terbaik yang saya punya. Karena saya masih sayang nyawa dan juga keperjakaan saya.
“Nggak ada kartu nama. Perusahaan saya belum ngasih kartu nama. Maaf ya..”, saya jawab masih dengan senyum.
“Kalo gitu saya kasih nomer telepon saya deh.”
“Boleh..”
Tiba-tiba terdengarlah sebuah pertanyaan yang mengejutkan bagai disambar petir di siang bolong….
“Eh, tapi Mas udah dicerai sama istri Mas kan?” tanyanya sembari mencari sesuatu di dalam tasnya.
WHAT??? Dicerai?? Istri saya yang menceraikan saya?? Bagaimana bisa?!? Kurang apa saya ini???
“Engng..Saya masih single kok”, jawabku sambil tersenyum kecut.
“Ooohhh….”
Dia kemudian menyobek secarik kertas yang diambil dari dalam tas plastik hitam yang ditentengnya. Menuliskan nomer telepon dan tidak lupa namnya. Sejurus kemudian memberikannya kepada saya. Saya mengucapkan terima kasih sembari memasukkan sobekan kertas itu ke dalam dompet. Ya, saya memasukkannya ke dalam dompet. Saya tau dia memperhatikan segala gerak-gerik saya. Dan saya pikir dengan saya memasukkan nomer teleponnya ke dalam dompet akan membuat dia merasa spesial. Entahlah….
Oh, Tuhan. Tolong selesaikan semuanya sampai disini saja.
“Maaf ya, Mas. Saya belum mandi,” dia kembali membuka pembicaraan.
“Oh, ndak pa pa. Saya juga sama…”
JAWABAN APA ITU?!?
*pingsan*
.
.
*bangun lagi*
“Oke deh. Saya harus buru-buru ke Jakarta. Saya nyeberang ya…”
“Oh, ke Jakarta ya. Iya deh, telepon saya ya…”
Saya cuma mengangguk. Begitu ada kesempatan menyeberang saya langsung melangkah ke sisi lain jalan. Tapi baru sampai di tengah badan jalan, perempuan itu lagi-lagi berteriak.
“Mas tunggu! Mas tunggu…!!”
LAILAHAILALLAH!! Ada apa lagiiiii??? Saya dengar dengan jelas panggilan itu tapi saya tidak berani menoleh. Lalu lintas sedang ramai, saya harus selamat dulu sampai di seberang jalan!!
Begitu saya sudah sampai di seberang perempuan itu ternyata juga sudah sampai!!
“Ada apa lagi?” saya bertanya.
“Mas, mo ke Jakarta kan? Tolongin saya. Jodohin saya sama Afghan ya, Mas…”
“Afghan siapa?”
“Penyanyi itu. Tolong ya, Mas…”
Saya cuma meng-iya-kan sebelum kemudian membalikkan badan dan pergi sambil menahan tawa. Saya tidak berani melepaskannya di depan perempuan itu. Pipi saya menggembung, tapi saya tidak boleh tertawa sekarang. Perut saya sakit, tapi saya tidak boleh tertawa sekarang. Owalaaahhhh………
Panjang!!

Eh, hiatus dulu ya..
hahahhaha, sumpah ngakak dis. tp kekna bakalan lbh ngakak klo pas kejadian itu aku ada di situ yaks? sumpritttt pengen ngegap ekspresi kamuuu :)). makanya jgn bolos kantorrrrr, senin2 bolos
@aprikot
lagi gak ada kerjaan ya git? sempet2nya baca tulisan sepanjang ini. hahahakz…
*ngakak*
jangan-jangan dirimu disangka
manajer atau asistensaudaranya AfganHUAHAHAHAHAHAHAHA……………
sukurin! diuber2 orang gila!!! bwahahahaha….
hehehehehe….
ada ya orang niat banget minta nomer telpon..
ya ampun…
beneran ngakak sepuasnya sambil ngebayangin ibu2 itu ikut-ikut turun dan ngasih nomer tlp…
*trus hubungannya sama afgan????? apa jangan2 disangka mirip????
Itu cerita beneran bro? Dahsyat.
*nahan ketawa*
@danalingga
SUMPAH!! Ini beneran bro…
Yudis…ini tmnnya dwpraz itu..ikutan comment ya…hehhe abis crita nya lucu bgt..bisa2 nya dikejar2 ma ibu2 yg sama2 blom mandi…
ternyata klopun jomblo ttp laku ya ma ibu2…hehehehe
@vine

lah, bebas2 aja kalo mo komen mah
eh, gw gak jelas itu ibu2 ato bukan loh. cuman gw nyapa dia dengan sebutan “bu”..
wakakakaka …. kocak crita nya ….
btw afghan itu siapa sih ???
Yudhis.. ada2 aja sdehh.. sampai ga kuat nahan ketawa baca ceritamu.
MAS!! ga nyasar kan?
ehh..ini beneran mas?
jangan2 si lenny itu Tyas MIrasih..kan dia lagi ngejae2 afghan yah..duuhh..malah pengumuman kalo saya banci inpotaingment..
bwahahahahahahahahaha…. *ndak bisa komen, cuma bisa ngakak sakit perut*
hmmm….mas2 jodohin akuh amak dhini yaks…
Huahahahaha…. Ancuuuuuuuuuuuuuuuuuurrr…! Sepertinya jodoh deh, sama2 belum mandi..
*piss ah*
aku yakin cerita aslinya ga gini,…
pasti kelanjutannya mandi bareng kan*eroro , rusakin blog orang .. gyahahahaha
jadi ibu itu ikut ke Jakarta dis??
wakakakaak
wah mas ini jadi biro jodoh toh
wakakakakaka…ini toh yang lo bilang kemaren pengalaman seru?
ternyata yudis mampus menarik perhatian ibu-ibu berdaster.
wawawawa..asli ngakak bacanya, ibuibu yang kekeuh dan pemuda yang ketakutan. Ehmmm kalo saja lenny ini gak pake daster, semisal blazer, wangi dan tentengannya bukan tas plastik hitam, mungkin gak takut yak ? wah saya bakal sering mampir sini deh
Wkwkwkwk..
hahahahaha..
apes sampeyan..
saya sudah tertawa duluan mas! walah2 koyok opo rupamu mas? aku gak iso mbayangke.
wkwkwk,
sampe atos juga perutku.
kisah nyata ya?
Gyakakakakakakak….
Ngakunya ga punya pacar.. Alaaahh.. Malah dapet ibu-ibu gitu

bwahahahahahahaha!!!!!!!! *ngakak guling2* postingan 10 hal yg membuatmu belon punya pacar seharusnya ditambahin lagi… “saya cuma mau sama orang waras”…
bisa jadi best seller nih ceritanya. Itu mbak2 gila apa emang ngefans sama mas nya to? Tolong kalo ke Bandung lagi dicari ya mas. Trus wawancara aja :))
jangan lama2 hiatusnya…
panjang bgt…
cape bc nya, heheheh
Woi…. lenny itu nama istriku!!!
Nasibmu, nasibmu hehehehe…
Sumpeh, kocak…. kekekekek
Mungkin si lenny kira… kamu orang afghanistan
Masoollooo….
Rupanya tampang situ selera emak-emak dasteran nyang ndak pernah mandi…..
hwahahahahaha…
jadi, udah cerai, mas? :))
iye, panjang.
tumben nulis panjang2..
hahaha..
Aahhh sial…
Kirain itu jodohnya oom yudis…
Tau taunya…
hehehehe speechless. lucu lucu
JAdi kapan cerainya, mas? Pasti karena Mas jarang mandi kan??
WAkakakakakakakakakakakakakakakak…………
TOBATTTT… saya gak jadi ngefans sama Afgan dehhh, gak kuat ama SAINGANNYA… ahakhakahakahkahakahkak…
Waduhhh, lupa ganti username… habis dari blognya mas Iman jari2 ituh :((
**merajam2 diri sendiri**
Gw juga mau dong Dis, dijodohin ama Fedi Nuril huahahahhahahha……
Kalo ketemu orang stress yg kayak begituan, biasanya saya menangis dlm hati, prihatin dgn apa yg menyebabkan kegilaan mereka.
Btw, orang ga mandi itu pasti aura-nya tarik menarik yach… buktinya ya postingan di atas itu huahahaha…
*balik lagi*
Eh, Dis.. kenalin dong dgn Crystal Liu…
Anjrit!! Ini cerita keren! Cara bertutur dan deskripsinya itu lho!
huahahahahahahha….
maut!!! maut!!!!
sempet menyangka nama perempuan itu donna sich..
ternyata lenny…
huahahahahahahahahaha…..
huahahahahahahahahahahahahaha…..
eh, 604-itu nomer telepon daerah kantor gw…
pajajaran…
(penting dech sez.. :p)
sapa tuuuu
.. dan akhirnya mereka berdua hidup berbahagia selama-lamanya..
(gak suka sad ending, jadi aku tambahin sendiri
)
hanya orang-orang beruntung yang menemukan kisah nyata seperti itu.
selamat ya mas…!!!
jangan lupa sama amanat dari Lenny..!! (Jodohin dia ma Afghan)