Bagaimana aku akan bercerita tentang hari itu? Bukan dimulai dari aroma segelas kopi yang meliuk-liuk di pagi hari seperti yang biasa kamu buatkan. Tapi sebuah tamparan. Dan kemudian air mata leler dari hulu matamu. Terisak. Setelah itu tanpa kata-kata makian, umpatan, dan segala bacotan penuh amarah yang memberondong. Bibir ranum tanpa gincu itu terkatup. Rapat. Diam tapi bergetar. Aku hanya mampu menatap linang kekecewaan tanpa mampu menangkap dan menyeka. Tetesnya kemudian jatuh lewat bingkai wajahmu. Aku diam, terlalu sombong untuk mengaku dosa. Kamu bungkam, terlalu lelah untuk bertanya: Kenapa?
Entah jam berapa pagi itu, di saat bibir kita tampaknya terlalu beku buat berkata-kata. Padahal matahari rasanya masih terbit seperti biasa. Pagi itupun tampak seperti pagi yang sewajarnya. Pagi dimana aku selalu terbangun oleh ketukanmu di pintu kamarku. Pagi biasa dimana setelah ketukan itu selama lebih dari dua tahun terakhir kamu akan setia mengecup kening dan menemani sarapanku.
Sesetia itukah kamu? Entahlah. Pada kenyataannya kita belumlah lagi tinggal seatap tapi hampir setiap pagi kutemukan wajahmu yang berbinar di balik daun pintu yang kuputar. Episode sama berulang-ulang yang kian hambar sebelum akhirnya kusambut kemarahanmu di balik pintu pagi hari itu.
**
“Tamparan ini buat apa, Ar?”
“Kamu pikir kamu tidak pantas menerimanya?”, tidak ada nada tinggi terlontar. Bahkan kalimat itu selesai dengan terputus-putus di sela isakan. Tapi aku bisa merasakan luka dari getar suaramu.
“Aku tau aku pantas. Bahkan mungkin aku pantas menerimanya lebih dari sekali. Tapi yang ini untuk apa?”
“BRENGSEK KAMU, BRE!”
Makian itu akhirnya tumpah bersama air yang berderai-derai di bulat pipimu. Tatapanmu dalam menghujam, tapi tak bisa kuterjemahkan. Entah iblis apa yang sedang menyelimuti hatiku saat itu. Aku merasa dingin. Bingkai pintu sudah jadi garis demarkasi. Sudah tidak ada lagi keinginan menyeberang untuk meraihmu ketika kamu akhirnya berbalik dan pergi. Maaf.
Salahku memang, Ar. Membiarkan hati terlalu mengontrol kepalaku. Menjelaskannya kepadamu pun tidak akan berguna. Cuma menambah perihmu. Apalagi menghadiahkan salam perpisahan setelah merayakan ulang tahunmu. Aku mungkin brengsek, tapi tidak sekejam itu untuk menggendongmu terbang tinggi lalu dengan sekejap menghujamkan ke bumi.
Kalau saja kamu tau betapa sempurnanya kurencanakan malam itu buatmu, Ar. Aku hanya sejauh satu belokan dari pagar putih rumahmu. Sayangnya hanya pesan singkatku yang akhirnya mampu singgah di hadapanmu. Ya, pesan yang mungkin teramat singkat, kubatalkan semua skenario yang sudah kubuat.
To: Ar
Kita putus. Maaf…
**
Lalu suatu sore, masih di hari yang sama dimana sebuah tamparan ternyata tidak meninggalkan bekas di pipi namun di hati.
Aku pikir alasan dibalik semua keputusan ini akan tetap menjadi rahasiaku sendiri. Aku pikir kamu marah hanya karena aku bilang putus tanpa alasan, lewat sms, dan di hari ulang tahunmu. Sungguh aku tidak tau karena kamu hanya menangis dan tidak banyak berkata setelah tamparanmu sampai di wajahku. Aku tidak sedikitpun mengira kalau kamu sebenarnya tau apa dibalik semua ini.
“Ar, aku sungguh tidak bisa menjelaskan. Dan aku memang sudah tidak bisa melanjutkan…”, jawabku atas sebuah pertanyaanmu.
Kupenuhi undanganmu untuk bertemu di sebuah kafe yang di dalamnya berkelebatan aroma kopi, seminggu yang lalu.
“Apa yang kamu coba sembunyikan dari aku, Bre? Selama ini kita baik-baik saja kan?”
Aku berusaha menarik nafas panjang. Sesungguhnya aku tidak punya jawaban atas pertanyaan itu. Kalaupun ada hanyalah sebentuk jawaban yang absurd. Tapi mau tidak mau aku harus menjawab bukan? Aku tau benar kamu, Arimbi. Sampai neraka pun akan kamu kejar kalau sebuah pertanyaan ingin kamu dapat jawabannya.
“Hilang aja, Ar. Rasa itu tiba-tiba hilang…”
“Hilang bagaimana? Tertinggal di Jakarta?”
Aku terhenyak. Nafas yang kuhela tiba-tiba terasa berat. Pertanyaan itu renyah tapi terasa menghantam di dada. Aku megap-megap mencari udara dengan komposisi kebohongan yang bersenyawa dengan pembenaran. Percuma, unsur-unsur itu begitu renggang di sekeliling meja kita untuk dihirup. Tidak ada satu alasanpun yang kemudian mampu kutiupkan. Aku diam saja, memalingkan wajah adalah cara paling tidak gentlemen yang kulakukan untuk menghindar dari pertanyaanmu.
“Risha kan?”
Tatapanku dengan cepat tersedot ke dalam gravitasi matamu bersamaan dengan jantung yang sontak melompat mendengar dakwaan itu. Shit! Darimana kamu tau nama itu? Batinku saat itu.
“Entah siapa perempuan itu, yang jelas dia sudah menjadi kabut di antara kita yang makin lama makin menebal. Dan kamu makin kehilangan jejakku, Bre. Kabut itu membuatmu linglung dan terperangkap dalam kesendirian. Ketika waktunya tepat si kabut menggodamu berasyikmasyuk hingga akhirnya kamu takluk. Iya kan, Bre…?”
“Maksudmu…?”
Hanya sebuah kalimat pertanyaan kosong. Sebuah mekanisme pertahanan diri. Kalimatmu sebenarnya sudah cukup tepat menelanjangi kepalsuanku, meski kiasan bisa diterjemahkan dalam seribu arti.
“Sudahlah, Bre. Aku sudah tau. Aku sudah bisa membaca ini semua tentang apa…”
Aku nanar saja, tertawan di balik gelas kopi yang membisu di atas meja. Aroma yang menari-nari di atasnya mulai kuyu, tapi gelas itu bahkan belum tersentuh olehku.
“Aku nemuin HP kamu tadi pagi di ruang tengah. Sms-sms, call register, foto-foto itu,…”
:: bacaan sebelumnya: #5
Blum selesei ini mbok, tunggu apdetan ntar malem. Ada sedikit problem..
lah, masih belum selesai?
*halah* malah gosip.
dibikin post baru aja bro!
____________________________________
oya, bagian kabut keren…
mirip kisah si sammy, keris patih
oya, sedikit terinspirasi iklan dove ya?hihi
*sok tahu*
@goop
iklan dove?? wakakakak….
ndak tuh, gw ndak kepikiran sama sekali. bagian mana yang mirip ya?
kenapa gak jujur saja? jangan pake alasan bullshit seperti bilang “kamu akan menemukan yang lebih baik. aku laki-laki yang gak pantas untukmu”
*curcol*
bila saya tidak salah, ini :
[...]“Aku nemuin HP kamu tadi pagi di ruang tengah. Sms-sms, call register, foto-foto itu,…” [...]
atau kebetulan yang betul ~>> iki opo?
lain kali kalo mau selingkuh yang lebih rapi donk..
*lirik om goop*
*kaburrrr*
rasa yang hilang tiba-tiba, GUWAH BANGET!!!
mangkanya rajin ngapus jejak di hape
o’ow…kamu ketahuan..
been there… been there… ouch!!
lanjutin om!
kerennnn.. BGT.. *nunggu lanjutannya..
ya sudah kita putus saja, bre!!!
BRENGSEK KAMU, BRE!!!
hyahahaha….ayo, mbok, mulai mikiiir, mikiiiirrrrr….
duh, gimana ngelanjutinnya ini yak? matek aku
anyways, ini keren
waaah sudah bersambung kembali… huhuuuuy…
*gelar tiker, nyiapin kopi*
loooh kok belum selesai Om Yudhissss??? waaaaaaaa… hiks hiks hiks
ayo cepat lanjutkaaaan!
Jah, ketahuan. Perlu meningkatkan ilmu itu.
ada yang aneh di cerita itu….
jadi benar2 menunggu kelanjutan ceritanya.
maksud ceritanya apa seh.?
lanjutanna nanti merubah ending gk seh bre.?
*nyari pak sawali*
yahhh… tanggung banget belum sampe selese gini.
*nunggu*
Maap,saya lg tepar.Blm sempet ngelanjutin..
*komen dari hape*
Penasran…
bisa cepet gak sih, lu? bisa cepet gak sih????
*ngakak jahat*
Hadiah ultah yg menyayat hati, rasanya… kayak luka yg ditetesin air jeruk nipis.
*uuuaaaaaa… (nangis sambil garuk2 aspal)*
bre jahat!
*neguk baygon*
Hmmmm… ini uda tanggal 30 lho..
*siyul-siyul
@nazieb
bentar nyet..Susah juga beresinnya
makin kubaca, makin sedap. tambah kopinya bung……
para pembaca masih menunggu lho bung….
wah, memang enak baca tulisannya sambil ngopi, masih panjang kan, sekalian istirahat nih dah lama nggak mampir.
[...] sebelumnya: #5, #6 Possibly related posts: (automatically generated)Selalu ada kopi panas untukmu (2)Warna hidupDan, [...]
WAhhh, ndak sabar nun ggu kelanjutannya… GILAKKK
keren…
si mbok yg nerusin yach???
[...] “Entah siapa perempuan itu, yang jelas dia sudah menjadi kabut di antara kita yang makin lama makin menebal. Dan kamu makin kehilangan jejakku, Bre. Kabut itu membuatmu linglung dan terperangkap dalam kesendirian. Ketika waktunya tepat si kabut menggodamu berasyikmasyuk hingga akhirnya kamu takluk. Iya kan, Bre…?” [...]
kata-kata yang mampu meghentikkan gerak tubuhku untuk beberapa saat. Salut !!! Terus berkarya, semoga makin sukses