Batas

“Aku nemuin HP kamu tadi pagi di ruang tengah. Sms-sms, call register, foto-foto itu,…”

Dan suara itu lamat-lamat menjauh, wajah sedihmu memudar, pintu kenanganku perlahan menutup. Ah Arimbi, beginilah akibatnya kalau kamu mencintai lelaki yang tidak memakai kepalanya. Bahkan hatinya pun hanya dari sekepal pasir, yang semakin erat kamu genggam akan semakin mudah ia lolos butir demi butir.

***

“Bre..Ngelamunin apa?”

“Hem? Ya, baby? Ah, enggak kok. Siapa yang ngelamun?”, aku tersenyum salah tingkah.

“Terus ngapain coba duduk disitu sambil bengong? Lagian sofa itu kan harusnya menghadap ke TV, bukan ke tempat tidur…”, Risha mencoba menggodaku.

“Hehe… Ada yang lebih enak diliat di atas tempat tidur.”

“Gombal kamu, Bre.”

Hahahahaha… Kita pun tertawa bersama. Seperti melupakan apa yang semestinya harus kita akhiri hari ini.

Setelah pertengkaran kita terakhir di telepon seminggu yang lalu aku meminta untuk bertemu denganmu. Kupikir akan menjadi pertemuan terakhir sebelum layar sandiwara cinta kita tutup. Tapi tampaknya perpisahan itu lebih mudah dibayangkan daripada dilakukan. Berada di dekatmu selalu meluruhkan hati. Perasaanku belum lindap meski tak tau, benar-benar tak tau bagaimana hubungan kita ini bisa dianggap benar. Benar yang berarti wajar dan sesuai dengan etika dan norma yang ada. Benar yang dinilai dari persetujuan mayoritas. Benar yang akhirnya diterjemahkan sebagai: aku tidak semestinya mencintaimu dan kamu semestinya tidak sedang bersamaku saat ini dan untuk seterusnya.

“Bre…!”

Puk! Sebuah bantal mendarat tepat di wajahku. Terlambat buat menghindar. Aku hanya memasang muka datar setelah bantal itu melorot sampai ke pangkuan.

“Kamu tuh ngelamunin apa sih?”

“Ssstt…Aku sedang memikirkan sesuatu…” Aku menempelkan telunjukku di bibir sambil otakku berputar-putar, mencoba mengelak bahwa aku memang sedang melamunkan sesuatu.

“Mikir apa ?”

Sosok tubuh di atas peraduan itu beranjak. Posisi berbaringnya yang miring ke kanan diangkatnya sedikit ke atas, lalu tangan kanannya menopang pipi dengan siku di atas bantal. Beberapa helai rambut hitam yang panjang dan berombak di atas dahimu jatuh. Seperti tirai menghalangi bulatan hitam yang tenggelam dalam bening mata. Lalu kamu menyibaknya pelan dengan jemarimu, menggiringnya tertata di belakang daun telinga. Sementara gerak jemari itu tak henti menyusur leher, mendaki ke pundak lalu turun ke pinggang dan berhenti di pinggulmu yang masih tertutup selimut.

Leher dan pundakmu, ya leher dan pundakmu tiba-tiba membimbing ingatanku pada sebuah puisi yang masih hangat terekam di kepala.

“Aku lagi mengingat-ingat satu puisi. Nggak hafal semuanya sih. Tapi aku setuju sekali sama apa yang dibilang Rendra untuk perempuannya disitu”, ujarku kemudian.

“Oya? Aku pengen dengar dong…!”

“Sebentar..sebentar…” Alisku mengerenyit, mencoba memanggil kembali larik-larik Rendra yang ada di kepala. “Ok. Tapi aku cuma ingat sepenggal. Gini dia bilang…”

Leher dan pundakmu
adalah pelabuhan zaman.
Teluk alam
yang mampu menanggapi badai lelaki.
Menghamburlah badaiku kepadamu.
Badai dari kuku.
Badai dari ujung jari.
Badai dari kulit perut.
Badai dari mimpi kanak-kanakku.
Badai dari hasrat yang terpendam.
Badai dari naluri purbakala.
Badai tigapuluhenam tahun dari hidupku
melanda pinggulmu.

“Udah, aku cuma inget segitu…”

Kulihat kemudian kamu hanya tersenyum, menyibakkan selimut putih yang membungkus sebagian tubuhmu, lalu bangkit dan duduk di tepi peraduan. Perlahan kamu menolehkan wajah, menatapku yang masih duduk di atas sofa. Aku balas tatapan wajah yang cantik dan teduh itu. Entah apakah kamu bisa membaca sebuah kegamangan di raut mukaku.

“Simpan saja puisi itu untuk perempuanmu nanti, Bre. Kamu bahkan belum tigapuluhenam kan?”

Jleb! Kalimat itu terbang begitu saja dari bibirmu. Lalu seperti sebilah pisau, menancap di serambi jantung dan mengeringkan darah yang mengalir di sekujur tubuhku. Seulas senyum yang dingin membekukan sendi-sendi dan hati tergurat di bibirmu.

“Maksudmu apa, babe?” Aku mencoba bertanya dengan hati-hati.

“Kamu tau apa yang aku maksud, Bre. Sudah ah, aku mau mandi dulu. Ini sudah terlalu sore. Aku harus segera pulang.”

“Risha…”

Segera aku bangkit dari sofa, mencoba menahanmu untuk menyelesaikan pembicaraan kita. Terlambat, kamu terlalu cepat dan aku hanya mendapati pintu kamar mandi berdebam di ujung hidungku. Dengan gontai aku berbalik dan berjalan ke arah jendela kaca besar di salah satu kamar hotel ini. Kusibak sedikit gorden berwarna cokelat yang menutupinya. Kusaksikan langit Jakarta yang sebentar lagi dijemput malam. Masih terngiang-ngiang sepenggal puisi yang kubaca tadi. Puisi yang sesungguhnya buat Arimbi. Ya, sebait puisi Rendra, penyair favorit Arimbi, dalam buku “Disebabkan oleh angin” yang seharusnya jadi kado di hari ulang tahunnya seminggu yang lalu.

***

Hampir selalu begini cara kita bertemu. Dibatasi oleh sekar-sekat sempir kamar hotel atau apartemen dan waktu. Saat matahari turun dari singgasananya menuju peraduan, kita selalu harus meninggalkan pusat semesta kita. Kembali kepada realita yang semestinya.

Aku ingin meminta lebih, tapi tidak mungkin. Aku sudah pernah memintanya kepadamu. Bahkan aku sudah mengosongkan sebuah ruang di hatiku hanya agar hati ini bisa terbang lebih tinggi untuk meraihmu. Tapi memang semua itu tidak mungkin. Seminggu terakhir ini keyakinanku terasa makin goyah. Semua hasratku makin lunglai. Kesabaran mulai terasa berbatas. Memang tak semestinya cinta kita ada, Risha.

Ah, aku benci keadaan seperti ini. Muak karena gerakku dibatasi. Cintaku dibenturkan pada kenyataan bahwa perempuan ini telah dilabeli oleh lelaki lain. Label cinta yang masih melingkar di jari manisnya.

Samar-samar berjingkat-jingkat di beranda memoriku. “Jadi kamu benar-benar mau pergi untuk perempuan itu, Bre? Bre, please, I don’t care if you really care as long as you don’t go…” Kalimat terakhir yang kuingat terucap dari Arimbi sebelum percakapan benar-benar usai karena aku meninggalkannya disana, seribu kilometer dari Jakarta. Kutinggalkan bersama cintanya yang masih menggunung demi Alrisha.

Tigapuluhmenit kemudian kamu sudah siap, menjinjing sebuah tas kecil di tangan kanan, dan tersenyum. “Love you, Bre…”, sebuah kecupan menempel di bibirku. “Aku pulang dulu ya…”

Aku menahan tanganmu sebelum sempat berbalik dan membuka pintu.

“Risha, ikutlah denganku. Kita pergi ke tempat dimana kita bisa menikmati waktu dengan bebas, tidak terkungkung tempat sempit seperti ini. Untuk terakhir kali?”

“Kamu ini ngomong apa, Bre? Sudah jelas aku gak akan bisa memenuhi permintaanmu. Aku harus bilang apa ke suamiku?”

“Apa yang ada di antara kita mungkin sudah saatnya berakhir, Risha. Aku hanya ingin memilikimu, utuh untuk sekelumit waktu saja. Mengalihkan peraduan yang selalu menjadi pusat semesta kita kepada matahari yang ada di atas sana. Membiarkan kita menemukan kembali apa yang saling kita cari. Aku dalam dirimu, kamu dalam diriku. Sesuatu yang mungkin lebih dari sekedar urusan nafsu. Sesuatu yang ternyata bisa kita berikan dalam keberadaan kita masing-masing.” Kuperhatikan kamu yang lalu menunduk dan terdiam. “Gimana baby? Cukup sehari atau dua hari aja kita ke luar kota. Terakhir kali…”

bersambung…

bacaan sebelumnya: #1, #2, #3, #4, #5, #6

20 Responses

  1. Ah, kalo ngikutin rasa gak puas mah gak akan publish2. Silahken dilanjut mbok.. :mrgreen:

  2. Btw mbok, di possibly related posts itu muncul cerpen “selalu ada kopi panas untukmu”
    saya baru ingat kalo saya pernah bikin cerita dengan nama tokoh perempuan yang sama. hahakhakhakhakz…bodohnya saya lupa…mhuahuahuahua…
    ya sudahlah…entah kenapa kok saya seneng banget dengan nama Alrisha (salah satu bintang paling terang di dalam konstelasi Pisces)

  3. wuaaah…mantabs…
    Tinggal nungguin Simbok…!!!
    (mana Mbok lanjutannya)

  4. mbook… lanjuuuuuutttt…..

  5. waduh maklum blm baca yg sebelumnya nih… :(

  6. *nungguin kabar selanjutnya dari simbokkk..
    gimana mbok?? udah ada kah??

  7. tumben gak ada mesyumnya… :roll:

  8. 1st… welcome back…
    2nd… another continuing story huh? :D
    aku nunggu kalo dah publish menjadi hardcopy deh ^^

  9. ohhh, ini tohhh yg berbalas novel itu yach…

    ckckckckckckckckcckck… keren juga :)

  10. @pema, emyou, ratutebu
    beri simbok waktu, pren..mhuahuahuahua…

    @hanggadamai
    waduh..kalo mo baca dari awal harus meluangkan waktu yang rada banyak, bro.. :D

    @cK
    dosa, ah.. :twisted:

    @carra
    novel picisan, mbak. daripada ngelamun jorok mending nulis.. :lol:

    @Silly
    keknya kalo mbak Silly nulis serius lebih keren deh..taruhan? :mrgreen:

  11. bagus, menyentuh. haduh, kok aku selalu jadi emosional tiap baca cerita ini?

    emosional = mangkel!!! sekarang giliranku bertapa dan berusaha masuk ke karakter alrisha supaya bisa menulis dengan gaya. agghhhhhhhhhhhhhh……

  12. kalau orang jawa bilang kesuwennn hahaha
    bukan bro, bukan ceritanya yang kelamaan, tapi rasa gemas yang muncul di setiap kata, ebusyed dah :P
    TOP
    emosi diaduk-aduk *menjura*

  13. bre ngajakin ke mana? liburan dua hari, ok. tapi kemana? ada clue, atau aku harus mengarang bebas?

    arggghhhhhhhhhh……pusing!!!!

  14. @simbok
    use your imagination, mbok! jiakakakakak…..
    kalo mo nolak juga bisa kok. saya kan ntar tinggal nurutin aja.. :D

    @goop
    jangan menjura kepada saya master!

  15. wah berlanjut lagi yak..??
    hebat banget neh., ceritana selalu bikin penasaran…
    tukang kopi em,ang selalu bisa bikin ketagihan ;)

  16. Sial, ku kira cerita bneran….

  17. kenapa sih si Bre itu selalu jatuh dalam pelukan wanita bersuami, Om Yudhis? Ada odiepus complex ya? :P

  18. [...] *cerita sebelumnya… Filed under fiksi [...]

  19. LANJUUUT!

    Tarik mang!

  20. [...] *cerita sebelumnya… [...]

Leave a Reply