Archive for the 'puisi' Category

setelah hujan
June 18, 2008

temani aku nanti, kala hujan berhenti dan aku sudah tidak ingin sendiri. setelah semua kisah kutuliskan hingga hanya diam yang tersisa di hadapanmu. dan aku tinggal menikmati parasmu yang membaca sisa galau-ku di atas kertas tanpa perlu ku mengeja. kadang berbagi tidak perlu dengan bicara. jadi setelah kamu selesaikan paragraf terakhir, heninglah dan biarkan lukisan [...]

kilas rindu di dalam kopaja
June 5, 2008

Melaju di atas kaleng kerupuk ini, neng
menjabani mulusnya aspal Jakarta
menghirup pagi yang berkarbonmonoksida
berbagi nasib seperti semut pekerja,
kok Akang ingat kamu

Bagaimana kabar cintamu ?
Apa masih bisa menunggu ?

samsara
May 7, 2008

dulu kamu bintang lalu hujan. jatuh menyesar sepanjang lintasan malam. dulu kamu hujan lalu menjelma samara. tanpa sesal berkata
: aku hanya menjalani samsara.
dan dengan peluh, tunasmu terus tumbuh serimbun ara. tiap jengkal tubuhmu adalah rumah yang rindang. lumbung yang menjaga kenyang.
hingga dimengerti dalam episode kali ini akhirnya
: Upajja Vedaniya Kamma*.
segundahnya hati yang masih menyimpan [...]

semestinya (bahagia)
April 24, 2008

perempuan, kenapa nestapa?
bukankah dirimu termolek yang dicipta-Nya
meski bulan jatuh tersangkut di dedahanan ara
bening mata dinda masih sanggup menemu mestika
sebab mahar bukan untuk membeli jiwa

Mimpi
April 18, 2008

Pagi ini aku terbangun dengan hampir melompat dari tempat tidur. Bergegas aku melongok ke luar jendela.
“ Fiuhh…Syukurlah matahari masih terbit dari timur. Kiamat bukan hari ini rupanya. ”
Angkasa ini sesak. Penuh dengan menara-menara menjulang. Menara-menara kaca yang di lantai-lantainya bergemerincing uang.
Udara yang aku sedot lewat lubang hidungku ini racun. Tapi ia sopan, dibunuhnya aku nanti [...]